Dalam tradisi tarekat, berguru merupakan hal yang fundamental. Ajaran tarekat mengarahkan para pengikutnya untuk mau mengikuti segala aqwal, af’al, dan ahwal, yang ada pada diri guru. Oleh karenanya menurut satu versi bahwa seorang pengikut tarekat jika tidak secara komprehensif, mengikuti guru pada semua dimensi jasad, ruh, dan rasanya, ia tidak termasuk pengikut atau murid yang loyal bahkan dipertanyakan kemuridannya.

Bagi pengikut tarekat, ittiba’, istima’, dan ijtima’ adalah keharusan. Ittiba berarti mengikuti segala yang dilakukan oleh guru, istima berarti mendengarkan segala yang diperintahkan dan dianjurkan, dan ijtima artinya membiasakan diri untuk berkumpul bersama guru. Ketiganya dalam bahasa tarekat, dianggap sakral, karena dapat membawa murid ke alam malakutiyyah sehingga mampu melahirkan wahdatul wujud atau kesatuan utuh antara murid dengan murid. Bagaimanapun, dapat memberikan dampak positif terhadap aqwal, afal, dan ahwal. murid. Saat itu terjadi, ada kesamaan antara guru dengan murid dalam ketiga dimensi tersebut. Guru yang dianggap sangat sakral dan kesuciannya terjamin, dimodel oleh murid secara komprehensif. Meski demikian, di antara murid yang berijtima, sangat jarang murid yang mampu melakukan hal tersebut.

Nabi muhammad saw pun melakukan hal yang sama dengan jibril as. Pertama kali berittiba, istima, dan ijtima adalah di saat beliau bertahannus di gua hiro. Pada kesempatan lain pun jibril as sering mendatanginya dalam wujud manusia. Saat itulah muhammad saw mengingat, mencatat, dan mendakwahkan isi catatannya. Hingga melintasi generasi selanjutnya, pencatatan pun berlanjut. Proses regenerasi ajaran tidak lepas dari dakwah yang dirujuk kepada pencatatan tentang kebenaran ajaran yang dibawa oleh para guru.

Proses pencatatan pun berlangsung pada era syekh abdul qodir jaaelani. Kita tahu bahwa banyak karya yang dihasilkan oleh beliau. Seperti sirrul asrar, fathurrabbani, attariq ilallah, dan karya lainnya dalam bentuk tulisan. Semua berisi deskripsi, komparasi, dan korelasi. Mengenai ajaran yang diterima. Penjelasan tentang aqwal, afal, dan ahwal para pendahulu. Pembandingan antara satu dengan ajaran lainnya. Dan penguatan tentang kebenaran ajaran melalui dalil aqli dan naqli. Maka jika ada yang menganggap karya-karya tulis para ulama klasik bukan rujukan ilmiyyah, anggapan demikian adalah salah besar. Karena dalam ittiba, istima, dan ijtimah ada prinsip-prinsip logis dan empiris.

Dalam tarekat qadiriyyah naqsyabandiyyah pun demikian. Tarekat modifikasi dari metode abdul qadir jaelani dan naqsyabandi ini melahirkan beberapa karya tulis. Seperti syekh ahmad khotib menulis fathul arifin. Abah Sepuh menulis insan kamil. Abah Anom menulis miftahussudur. Dan beberapa karya agung dari para syekh lainnya yang tidak ter-dokumentasikan.

Tradisi menulis ini dilanjutkan oleh abah Aos. Kemampuannya dalam ilmu bahasa arab dan titah dari abah Anom yang begitu kuat, mendukung keberhasilannya membuat karya tulis berbahasa arab dan sangat membantu mempermudah murid lainnya untuk lebih mengenal tentang tarekat qadiriyyah naqsyabandiyyah serta gurunya, abah Anom.

Abah Aos adalah model murid yang berhasil melakukan ittiba, istima, dan ijtima. Bukan hanya mampu memodel gurunya secara total, namun mampu menuangkan pemikiran dan hasil pengamatan terhadap gurunya, membuat catatan-catatan kecil tentang gurunya. Selain untuk jurnal harian, catatan kecil tersebut dijadikan rujukan oleh murid yang lain tentang bukti kebenaran dalil-dalil aqli dan naqli yang berbicara mengenai ketarekatan dan ajarannya. Misal salah satu catatan abah Aos tentang abah Anom, yakni kitab fathul jalil yang membahas tentang ciri-ciri kemursyidan yang sempurna dan menyempurnakan. Tentu abah Aos merujuk kepada qoul ulama ahli tasawwuf.