Thoriqot Peradaban Dunia; Perspektif Psikologi Sosial

Dalam Ilmu Tassowuf, thoriqot merupakan salah satu bahasan pada perspektif praktis karena thoriqot lebih aplikatif. Sehingga pembahasannya pun semestinya tidak memerlukan kajian panjang. Seperti halnya ilmu fiqih, mengajarkan tentang thoharoh. Pembahasan cukup sampai tata cara teknis dan diakhiri dengan praktik berwudhu. Demikian halnya dengan thoriqot, seorang guru hanya membahas tentang tata cara dzikir atau metode dzikir dan diakhiri dengan talqin, yakni istilah pelatihan berdzikir itu sendiri secara teknis.

Thoriqot diserap dari bahasa arab yang berarti metode, cara, atau teknik. Inti dari thoriqot itu sendiri adalah teknik berdzikir atau menghidupkan memory manusia dengan diiringi gerakan-gerakan khusus dan berfaidah terhadap dimensi spiritual. Adapun materi memory tersebut pun khusus, yakni ismuzzat yang memiliki nilai teologis dan berpengaruh terhadap spiritualitas manusia yang beragama Islam.

al-Quran menyebutkan faidah dzikir itu sendiri salah satunya adalah untuk menimbulkan ketenangan bathini. Dalam bahasa Quran, ketenangan qalbu. Qalbu itu pun memiliki beberapa struktur dimana yang paling dalam menurut perspektif ulama sufi ialah Sirr. Ketika seseorang berdzikir, maka seluruh struktur tersebut hingga yang paling dalam menjadi hidup. Khususnya mereka yang telah menekuni dua metode dzikir jahar dan khofi.

Ketenangan bisa didapatkan hanya jika telah memenuhi lima kebutuhan dasar. Ketika kelimanya telah terisi penuh maka diri seorang manusia menjadi aman, tentram, tenang, damai.

Apakah dzikir mampu memenuhi kelima kebutuhan dasar tersebut?. Jawabannya adalah iya. Bukan hanya memenuhinya melainkan menutupi semua kebutuhan tersebut. Dalam thoriqot dzikir, seorang pengamal dianjurkan untuk menutup beberapa inderanya sehingga dalam sekejap mampu menghilangkan segala hal selain mengingat ismuzat yang sangat bernilai tadi. Sehingga kelima kebutuhan dasar tadi lenyap sejenak seolah semuanya diserahkan kepada pemilik sesungguhnya yakni Alloh SWT. Jika seorang pengamal thoriqot secara intens melakukannya dapat memberikan dampak repetisi, ketenangan yang berulang dan semakin menguat bertahan hingga permanen dalam dirinya.

Dalam pandang lain, jika ketenangan secara permanen bertahan dalam diri, maka berdampak pula terhadap sikap dan kepribadiannya. Karena ketenangan merupakan kondisi pikiran yang positif dan berpengaruh terhadap kepribadian yang melahirkan perilaku-perilaku terkontrol. Kita coba istilahkan perilaku terkontrol dengan akhlak alkarimah atau perilaku mulia. Jadi dzikir secara langsung, cepat atau lambat dapat memberikan dampak pada perubahan kepribadian dari hanya moral knowing, moral loving, hingga bersikap moral.

Bersambung…