Klaim bahwa agama selalu mengajarkan yang baik memang hal tersebut pasti. Akan tetapi, harus disadari bahwa terkadang antara ajaran agama (normatif) dan tindakan umatnya terjadi kesenjangan (gap) keduanya. Artinya antara keyakinan terhadap ajaran agama tidak atau tidak berbanding lurus tindakan dengan umatnya.

Padahal tindakan inilah yang menjadi tolok ukur keberagamaan seseorang. Meminjam jargon dalam Islam al-Islamu Mahjubun bi al-Muslimin (Islam tertutup oleh perilaku dan tindakan orang Islam). Beragama yang sebenarnya adalah adanya penghayatan oleh pemeluknya dengan benar dengan sistem ajaran, norma moral, institusi, dan ritus agama itu sendiri. Oleh karena itu, memahami dan menghayati ajaran agama dengan benar adalah sangat penting.

Hal ini adanya fungsi dan peran tertentu dalam agama. Oleh karena itu, setidaknya ada tiga fungsi dan peran agama yang cukup rentan dalam kehidupan social-kemasyarakat, yaitu: Pertama, agama sebagai faktor ideologis. Kedua, agama sebagai faktor identitas. Ketiga, agama sebagai legitimasi etis hubungan sosial.

untuk lanjut membaca silahkan klik disini