Manakah yang harus didahulukan dalam islam logika atau rasa? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut ada banyak permasalahan orang dalam beragama yang membawa mereka ke jalan kemurtadan dan tidak sedikit diantara mereka adalah insan akademis dan juga ada diantara mereka yaitu orang-orang yang tidak memiliki pemahaman yang cukup mengenai islam sehingga gampang dipengaruhi.

Permasalahan yang biasanya menghampiri insan akademis adalah terlalu kritisnya mereka berpikir tentang keberadaan Allah dan biasanya pertanyaan-pertanyaan yang menghantui kepala mereka adalah bukti adanya Allah, dimana tempat Allah, apa gunanya menyebah Allah dll, hal ini dipicu oleh pemaham mereka yang mendalam mengenai filsafat yang nantinya akan meningkatkan daya pikir kritis mereka akan sesuatu hal.

Pengunaan logika yang berlebihanlah yang dapat membawa kita ke jalan kesesatan dan yang lebih parahnya lagi adalah jalan kemurtadan, kita semua sepakat bahwa semua manusia pasti punya batasan-batasan dalam dirinya, contohnya mata kita punya batasan untuk melihat, telinga kita punya batasan untuk mendengar, mulut kita ada batasan untuk bicara, perut kita ada batasan untuk makan, kaki kita ada batasan untuk berjalan, dan otak kita punya batasan untuk berpikir/berlogika

Dan batasan logika manusia adalah berpikir yang sangat mendalam tentang Allah, karena dalam islam sudah ditetapkan batasan-batasan berpikir tentang Allah, karena Allah tidak seperti makhluk, pertanyaan-pertanyaan seperti Bagaimana bentuk Allah? Apakah allah bertempat? Dll. Ketahuilah pertanyaan-pertanyaan tersebut hanya pantas untuk makhluk tidak pantas untuk Allah, karena Allah tidak seperti makhluk, dan logika kita dibatasi untuk memikirkan dan membayangkan Allah bukanlah wilayah logika manusia karena logika kita sudah dibatasi dari pertanyaan-pertanyaan demikian.

Dan penyebab orang-orang berpikir terlalu mendalam tentang Allah yang akhirnya malah berujung kemurtadan adalah kurangnya rasa dalam diri mereka. Apa itu rasa? Kenapa rasa? Dari mana sumber rasa berasal. Rasa itu adalah ketika Kita merasakan keberadaan Allah Swt dalam hidup kita, dan apabila kita sudah merasakannya maka pertanyaan tentang “apa bukti keberadaan allah” dan “dimana allah bertempat” tidak akan berlaku. Karena Allah tidak mampu dilihat oleh manusia sebagaimana nabi musa yang meminta Allah menampakkan jasadnya namun belum melihat jasadnya saja nabi musa sudah pingsan, sekarang yang menjadi pertanyaan adalah, anda nabi? Bukan, rasul? Bukan, terus anda mau mengetahui wujud allah apakah anda sehat?.

Rasa itu hanya bisa diperoleh lewat mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan yang ia ridhoi agar bisa merasakan keberadaan Allah sebagi bentuk implementasi dari ihsan. Dan dalam keilmuwan nilai-nilai ihsan terdapat di Tashowwuf dan diamalkan dengan metode yang disebut Thoriqoh. Maka dapat kita katakana disini bahwa Rasa lebih penting dari logika, bukan berarti logika tidak penting tetapi kita harus mengutamakan rasa.

Contoh simpelnya seperti ini tahukah anda tongkol balado? mungkin kelihatan sepintas anda akan berpikir tongkol itu pedas karena dipenuhi cabai dan warnanya merah? Tapi ketika anda sudah merasakannya dan ternyata tongkolnya tidak pedas apakah anda masih mengutamakan apa yang dikatakan otak anda atau apa yang anda rasakan tentu anda akan memilih apa yang sudah anda rasakan.

Begitupula dalam beragama sebelum kita bertanya apa bukti Allah itu ada, maka alangkah baiknya kita untuk merasakan keberadaan Allah itu sendiri, bagaimana cara merasakan kebradaan Allah yaitu dengan mengingat Allah mengamalkan apa yang diajarkannya. Karena Allah ta’ala berfirman dalam hadits qudsi “aku bersama hambaku selama ia mengingatku” dan dalam merasakan kebradaan Allah  tiada cara lain selain Dzikrulloh dan ciri dari dzikrulloh adalah anda merasakan ketenangan hati yang berbeda dengan ketenangan hati karena akibat dari aktivitas duniawi.

Maka dapat disimpulkan bahwa salah satu bukti dari keberadaan Allah adalah kita dapat merasakan ketenangan hati yang diperoleh melalui Dzikrulloh. Karena keberadaan Allah bukan untuk dipikirkan tetapi untuk dirasakan sesungguhnya pikiran kita terbatas untuk memikirkan keberadaan Allah secara logika apalagi memikirkan dzatnya. Karena Allah bukan makhluk tetapi adalah kholiq dan sifat makhluk sangat berbeda dengan kholiq.

Mempelajari logika sangatlah penting dalam memperdalam pengetahuan kita tentang agama yang penting kita tahu batasan-batasanny dan yang paling utama adalah kita memiliki landasan, fondasi, dan tiang iman yang kokoh  dan hal tersebut tidak mungkin didapatkan hanya melalui logika karena logika bisa saja diacak-acak oleh manusia, akan tetapi hal tersebut harus diperoleh dari rasa kita akan keberadaan Allah dan bicara soal rasa, sudah pasti bicara soal Ihsan, dan ihsan hanya dapat didalami melalui pembelajaran Tashowwuf, dan Tashowwuf, hanya bisa diaplikasikan melalui Thoriqoh, dan dalam pengamalan Thoriqoh sudah pasti tidak akan lepas dari dzikrulloh.

Dan apabila kita sudah mempelajari Tashowwuf dan Mengamalkan Thoriqoh maka sehebat apapun orang mengacak-acak logika kita tentang kebenaran dan keberadaan Allah maka mereka tidak akan mampu mengacak-acak keimanan kita kepada Allah karena kita sudah merasakan keberadaan dan kebenaran Allah Ta’ala.